Selasa, 05 Mei 2009

Hani

Perbedaan antara yang mustahil dan yang tidak mustahil terkletak pada tekad seseorang. -Tommy Lasorda-
Pada hari aku bertemu Hani irmawati, ia adalah gadis berusia tujuh belas tahun yang pemalu, berdiri sendirian di tempat parkir sekolah internasional di Indonesia, tempatku mengajar bahasa inggris. Sekolah itu mahal dan tak menerima murid orang Indonesia. Ia menghampiriku dan bertanya apakah aku dapat membantunya memperbaiki kemampuan bahasa inggrisnya. Aku tahu bahwa dibutuhkan keberanian besar untuk gadis Indonesia yang berbaju lusuh ini menghampiriku dan meminta bantuan.
"Mengapa kau ingin meningkatkan kemampuan bahasa inggrismu?" aku bertanya padanya, benar-benar menduga ia akan mengatakan ingin mencari kerja di hotel setempat. "Aku ingin kuliah di Amerika", katanya dengan percaya diri. Impiannya yang idealis membuatku ingin menangis. aku setuju mengajarinya seusai sekolah setiap hari atas dasar sukarela.


Untuk beberapa bulan berikutnya, Hani bangun setiap pagi pada pukul lima dan naik bis kota ke SMUnya. Selama satu jam perjalanan itu ia belajar untuk pelajaran biasa dan menyiapkan pelajaran bahasa inggris yang kuberikan sehari sebelumnya. Pada jam empat sore, ia tiba di kelasku,lelah namun siap belajar. Semakin hari saat hani berjuang dengan bahasa inggris tingkat uniersitas,aku semakin menyukainya. Ia belajar lebih giat daripada kebanyaka siswa ekspatriatku yang kaya-kaya.
Hani tinggal dirumah berkamar dua dengan kedua orang tuanya dan dua orang saudaranya. Ayahnya adalah penjaga gedung dan ibunya pembantu rumah tangga. Saat aku datang ke lingkungan mereka untuk bertemu, aku baru tahu bahwa pendapatan tahunan mereka bersama adalah $750. Itu tidak cukup untuk membayar biaya hidup sebulan di universitas di Amerika. Semangat hani meningkat seiring dengan meningkatnya kemampuan bahasanya, tapi aku makin patah semangat.
Suatu pagi di bulan desember 1998, aku menerima pengumuman kesempatan beasiswa untuk universitas besar di Amerika. Dengan bersemangat aku merobek amplopnya dan mempelajari syaratnya, tapi tak lama kemudian akupun menjatuhkan formulirnya dengan putus asa. Tak mungkin, kupikir, Hani memenuhi syarat ini. Ia belum pernah memimpin klub atau organisasi, karena disekolahnya tak ada hal-hal seperti itu. Ia tak memiliki pembimbing dan nilai tes standar yang mengesankan karena memang tak ada tes semacam itu. Namun, ia memiliki tekad yang lebih kuat dari murid manapun yang pernah kulihat.
Waktu Hani masuk ke kelas hari itu, aku menseritakan tentang beasiswa itu.Aku juga mengatakan padanya bahwa kurasa tak mungkin ia biasa mendaftar. Aku mendorongnya agar, dalam kata-kataku sendiri,"realistis" tentang masa depannya dan tidak terlalu gigig berencana ke Amerika. Bahkan setelah ceramahku yang pesimis,Hani tetap teguh. "Maukah anda mengirim namaku?" Aku tak tega menolak. Aku mengisi pendaftaran, mengisi setiap titik dengan kebenaran yang menyakitkan tentang kehidupan akademisnya, tapi juga pujianku tentang keberanian dan kegigihannya. Kurekatkan amplop itu dan mengatakan pada hain bahwa peluangnya untuk diterima itu tipis, mungkin nihil.
Pada mingu-minggu berikutnya, HAni meningkatkan pelajarannya dalam bahasa inggris, dan aku mengatur agar ia mengambil TOEFL di jakarta. Seluruh tes komputerisasi akan menjadi tantangan besar bagi seseorang yang tak pernah menyentuh komputer. Selama dua minggu kami mempelajari bagian-bagian komputer dan cara kerjanya. Lalu tepat sebelum hani ke jakarta, ia menerima surat dari asosiasi beasisiwa itu. Inilah saat yang kejam, Penolakan , pikirku. Mencoba mempersiapkannya untuk menghadapi kekecewaan, aku membuka surat dan mulai memmbacanya,

Ia diterima.

Aku, yang kaget, meloncat- loncat sekeliling ruangan dengan gembira. Hani berdiri, tersenyum samar, tapi hampir pasti bingun melihat keterjutanku. Aku akhirnya menyadari bahwa akulah yang baru memahami sesuatu yang telah diketahui hani sejak awal:"Bukan kecerdasan saja yang membuatmu sukses, tapi juga hasrat untuk sukses, komiment untuk bekerja keras dan percaya akan dirimu sendiri" -Jamie Winship-
Dikutip dari buku : Chicken Soup for College Soul ( Jack Candfield, Mark victor hansen,Kimbely Kiirberger,Dan Clark )
Semoga menambah semangat untuk adik2ku yang akan melangkahkan kaki menuju universitas.

6 komentar:

wildan mengatakan...

sangat memotivasi banget buatku untuk belajar lebih keras, ternyata keinginan yang besar disertai usaha yang keras dapat mewujudkan tujuan, walaupun sepertinya tidak mungkin.

dyna fitria mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
dyna fitria mengatakan...

" Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang diusahakannya. Dan sesungguuhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan kepadanya. Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. Dan sesungguhnya kepada tuhanmulah kesudahan segala sesuatu "
(Q.S An-Najm 39--42)

Riezal mengatakan...

Matematika memang menyenangkan
tapi tapi tapi . . .
visit blog q yach
klubmatematika.blogspot.com

musaendra mengatakan...

Dahsyat....terimakasih...ceritanya bagus

Anonim mengatakan...

i want to be like her. but my confidence it's not enough, i hope i will study at japan/singapore amen

Pengikut